Tampilkan postingan dengan label Bid'ah-bid'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid'ah-bid'ah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

FATWA ULAMA AHLUSSUNNAH TENTANG HUKUM NASYID “YAA THOYBAH YA DAWA’AL AYAANA”

0 komentar
Penerjemah*) : Al-Ustadz Abu Abdirrahman Rahmat Hidayat

Bismillahirrahmanirrahiim

Hukum nasyid (ياطيبة يادواءالعيانا) yang beredar di tengah manusia dengan bentuk yang tidak benar, sehingga kami mengharap agar disebarkan hukum nasyid tersebut di tengah manusia.

1. JAWABAN ASY-SYAIKH SHOLIH BIN SA’AD AS-SUHAIMI –SEMOGA ALLAH MENJAGA BELIAU-

* HATI-HATILAH DARI NASYID-NASYID KEKAFIRAN DAN BERBAU SHUFIYAH *

Soal : Berkata (penanya) : Disana ada nasyid-nasyid Islami yang berbunyi “Wahai Allah, dengan penglihatan dari mata yang pengasih, mengobati semua yang ada pada diriku berupa penyakit-penyakit” apakah dalam nasyid ini ada masalah?

Jawaban : Saya tidak mengetahui apakah dia memaksudkan dari kalimat : dari mata yang pengasih apakah dia maksudkan bahwa dia berdo’a kepada Allah agar Dia menguasakan kepada salah seorang dari makhluk-Nya atau dia memaksudkan Allah Ta’ala sendiri.

(Yang jelasnya) atas apapun yang dimaksudkan, walaupun dia memaksudkan Allah Ta’ala, tetap tidak boleh (berdo’a) dengan ibarat-ibarat seperti ini. (sebab) sifat-sifat tersebut tidak boleh berdo’a kepada sifat-sifat / dimintai darinya, memang benar Allah memiliki mata, Allah memiliki dua mata tentunya mata penglihatan yang sesuai dengan Kemuliaan-Nya dan Keagungan-Nya, akan tetapi jangan Anda berdo’a dengan mengatakan : Wahai mata penglihatan Allah, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan kalau dia berdo’a kepada sifat Allah maka dia kafir, jadi kalau dia berkata : Wahai kekuasaan Allah, Wahai Rahmat Allah, Wahai Tangan Allah, Wahai Ni’mat Allah, maka dia kafir sebagaimana disebutkan dari kebanyakan Ulama. Akan tetapi wahai saudaraku sekalian hendaknya engkau berdo’a dengan do’a-do’a yang jelas datangnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan tidak ada hajat engkau dengan lafadz-lafadz meragukan ini yang terkadang dapat menjerumuskan Anda kepada perbuatan bid’ah atau kesyirikan, berhati-hatilah dari bid’ah dan kesyirikan. Dan hendaknya Anda mengembalikan segala lafadz-lafadz kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Yang jelasnya, berkaitan dengan nasyid-nasyid ini, saya ingin memperingatkan kalian dengan sesuatu yang terlintas di benak saya sekarang ini, apa yang ada di sekitar Al-Haram (Masjid Nabawi) disana dijual kaset “Yaa Thaibah ….. Yaa Thaibah …..” ini adalah kesyirikan, merupakan bentuk kesyirikan dari asalnya karena berdo’a kepada Thaibah (nama lain kota Madinah) sama dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala! Juga lafadz “Wahai Penawar Derita” siapakah yang menyembuhkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala atau Taibah?? Jadi, jika engkau berdo’a kepada Thaibah untuk kesembuhanmu maka engkau telah melakukan kesyirikan.

Inilah yang terjadi bahkan tersebar diantara anak-anak sekarang ini, tersebar di HP/telpon genggam, bahkan tersebar dimana-mana nasyid “Yaa Thaibah ….. Yaa Thaibah …..” disini di samping masjid Nabawi (di toko-toko) tasjilat, maka bertaqwalah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap diri Anda. Karena disana ada lafadz-lafadz yang dilantunkan sebagian manusia padahal lafadz-lafadz tersebut padanya kekufuran sementara dia tidak tahu, orang itu tidak tahu dan tidak menyadari bahwa lafadz- lafadz tersebut adalah kekafiran. Apakah dia mendapat udzur di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala atau tidak? Kita tidak tahu, akan tetapi lafadz tersebut adalah kesyirikan dan dia melakukan perbuatan syirik. Maka berhati-hatilah! Jangan kalian mendengar segala sesuatu. Saya memiliki suatu kaset kemungkinan di dalamnya ada ratusan kalimat yang sering dilantunkan sebagian manusia khususnya di negara – negara Arab, maka berhati-hatilah Anda terhadap perkara ini!

2. TRANSKRIP FATWA ASY-SYAIKH SHOLIH BIN SA’AD AS-SUHAIMI

Soal : Berkata (Penanya) semoga Allah berbuat baik untuk Anda – didapati permainan untuk anak-anak yang di dalamnya ada nasyid yang menyebutkan : “Yaa Thaibah ….. Yaa Dawa'al Ayana …..” apakah ini teranggap istigatsah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Jawaban : Ya, Nasyid ini “Yaa Thaibah ….. Yaa Dawa'al Ayana …..” di dalamnya terdapat bau kesyirikan dan terkadang menjadi bentuk kesyirikan secara nyata/terang-terangan. Dan sungguh telah ditanyakan kepada Masyaikh Kibar/Ulama Besar dimana waktu itu saya berada bersama mereka dua hari yang lalu, maka diantara mereka ada yang menyatakan dengan terang – terangan dan pasti bahwa hal itu adalah kesyirikan dan diantara mereka ada yang berkata bahwa itu di dalamnya terdapat bau kesyirikan, sebab hal itu adalah bentuk do'a dan panggilan. Dan panggilan dengan jenis ini adalah kesyirikan. Maka yang menyembuhkan penyakit adalah Allah Azza wa Jalla sebagaimana dalam ayat : (Nabi Ibrahim berkata : dan Apabila saya sakit maka Dialah (Allah) yang menyembuhkanku), jadi engkau memanggil/menyeru kepada Thaibah Al-Madinah – dan memang kita semua mencintai Thaibah/Kota Madinah, akan tetapi kecintaan kita tersebut tidak menjadikan kita beristighatsah dengannya atau dengan tanahnya atau dengan apa yang ada terdapat di dalamnya. Ini tidak boleh sama sekali. Bahkan hal ini – wal 'iyadzu Billah – (dan Allah tempat berlindung) dikhawatirkan sebagai perbuatan syirik, maka kewajiban kita untuk menjauhi segala sesuatu yang di dalamnya terdapat kesyirikan atau hal – hal yang berbau syirik.

Dan nampak bagi saya bahwa hal tersebut adalah perbuatan syirik karena merupakan bentuk panggilan (meminta hajat) sebagaimana halnya (termasuk kesyirikan) jika Anda berkata (memanggil) : wahai Ali, wahai Muhammad, wahai 'Amr, wahai Zaid apalagi kalau dikaitkan dengan meminta penawar derita orang sakit. Nasyid – nasyid ini yang kita dengar sekarang ini, banyak beredar di sekitar hotel – hotel (dekat masjid Nabawi) dan di toko – toko, semua itu wajib dihilangkan/dimusnahkan.

Sungguh merupakan kewajiban untuk dihilangkan karena dia merupakan kemungkaran dimana menjadi kewajiban atas mereka yang memiliki wewenang dalam hal ini untuk menghilangkannya/memusnahkannya.

Ya, demikian pula halnya dengan apa yang kebanyakan dikenal dengan nasyid – nasyid Islami yang isinya dari jenis (yang haram) ini. Kebanyakan dari nasyid – nasyid tersebut, tidak luput dari bentuk – bentuk do'a sepenuh hati dan istigatsah atau bentuk lagu/bernada, menyerupai nada kaum wanita atau yang semisal itu.

3. FATWA ASY – SYAIKH UBAID AL-JABIRI – SEMOGA ALLAH MENJAGANYA –

Soal : - Semoga Allah berbuat baik untuk Anda – penanya berkata : Akhir – akhir ini bermunculan nasyid – nasyid yang didalamnya terdapat sebagian lafadz – lafadz yang bermasalah, seperti perkataan : “Yaa Thaibah ... Yaa Thaibah ... Yaa Dawa'al Ayaana” apakah lafadz – lafadz ini merupakan kesyirikan? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban : Kebanyakan nasyid – nasyid semisal yang disebutkan dalam pertanyaan adalah bukan dari pantun ahli adab dan bahasa dari kalangan ahlussunnah, tetapi itu hanya pantun ahli adab dan bahasa yang bodoh bukan dari ahlussunnah, yang (dalam pantun tersebut) tidak ada aturan mengikat mereka dan ketentuan yang menjadi patokan mereka, mereka adalah orang – orang yang keliru atau dari orang – orang yang membuat khurafat/dongeng, ahli takhayul/dongeng/legenda, karena itu sungguh Anda akan mendengar dan membaca dari pantun – pantun itu terkadang terdapat kalimat kekafiran dan kesyirikan. Maka hukum yang minimal untuk dikatakan tentang qashidah ini adalah bid’ah bahkan yang nampak bagi saya sungguh dia bentuk – bentuk do'a, berdo’a kepada negeri wahai penawar derita, dan ini adalah do'a yang terlarang.

Selesai dengan Taufiq Allah Subhanahu wa Ta'ala

*) Penerjemah adalah Staf Pengajar di Ma’had Tahfidzul Qur’an “As-Sunnah” Kab. Sidrap, Sulsel.

NASKAH ASLI

حكم نشيد ( ياطيبه يا دوا العياني ) المنتشر بين الناس بشكل لا يصدق فنأمل أن ينشر حكمه بين الناس

جواب الشيخ صالح بن سعد السحيمي حفظه الله


فاحذروا الأناشيد الكفرية والصوفية

السؤال :يقول هناك أناشيد اسلامية تقول ألا يا الله بنظرة من العين الرحيمة تداوي كل ما بي من أمراض سقيمة فهل في هذا شيئ ؟ ألا يا الله بنظرة من العين الرحيمة تداوي كل ما بي من أمراض سقيمة.

جواب الشيخ صالح بن سعد السحيمي:
لا أدري هل يقصد من كلمة من عين ر حيمة, هل يقصد أنه يدعو الله أن يسخر له أحدا من المخلوقين أو يقصد الله سبحانه و تعالى, على كل حال حتى و لو كان يقصد الله لا يجوز التعبير بمثل هذه العبارات, الصفات لا تدعى, نعم لله العين، لله عينان تليقان بجلاله و عظمته، لكن ما تقول يا عين الله ، حتى أن بعض العلماء قال لو دعا الصفة كفر, لو قال يا قدرة الله يا رحمة الله يا يد الله يا نعمة الله يكفر، هكذا رأى كثير من العلماء, لكن يا أخي أدعو بالأدعية الصريحة الثابتة في الكتاب و السنة و مالك و مال هذه الألفاظ الموهمة التي ربما توقعك إما في بدعة أو في شرك، ربما توقعك إما في بدعة أو في شرك، احذر منها كلها و كل لفظ اعرضه على الكتاب و السنة و على كل حال في الأناشيد في ما يسمى بالأناشيد .. أنا أنبهكم الى شيئ الآن خطر ببالي قريب الأن بجوار الحرم يباع شريط يا طيبة يا طيبة, هذا شرك .. نعم, هذا هو الشرك بعينه , تدعو طيبة من دون الله ! يا دوى العيان! من الذي يشفي المرضى الله أم طيبة!؟ فإذا دعوة طيبة لتشفيك فأنت مشرك, و هذه حتى بين الأطفال الأن متداولة في الجوالات ومتداولة في كل مكان, يا طيبة با طيبة هي هنا بجنب الحرم في التسجيلات, فاتقي الله و انتبه لنفسك, هناك ألفاظ يرددها بعض الناس و هي كفر و هو لا يدري, لا يدري لا يشعر أنها كفر, عذر أو عدم عذر عنه الله لا ندري عنه, لكن هي شرك و هو مشرك, انتبه )... ) ستسمعون أشياء .. أنا عند شريط فيه ممكن مئات الجمل كلها يرددها بعض الناس خصوصا في البلاد العربية, فانتبه لهذا.


مقطع مفرَّغ من فتوى لفضيلة الشيخ صالح السحيمي حفظه الله


... الآن بجوار الحرم يُباع شريط ( يا طيبة يا طيبة ) هذا شرك ، نعم هذا هو الشرك بعينه تدعو طيبة من دون الله؟؟! ، ( يا دوا العيّانَ ) ، من الذي يشفي المرضى ؟؟ الله أم طيبة ؟؟ فإذا دعوت طيبة لتشفيك فأنت مشرك وهذه حتى بين الأطفال الأن متداولة في الجوالات ومتداولة في كل مكان ( يا طيبة ، يا طيبة ) هنا بجوار الحرم في التسجيلات . فاتقي الله وانتبه لنفسك ، هناك ألفاظ يردِّدها بعض الناس وهي كفر وهو لا يدري ، لا يدري ، لا يشعر أنها كفر ، عذره أو عدم عذره عند الله لا ندري عنه لكن هي شرك وهو مشرك . فانتبه !! لا تسمعون أشياء ( أنا عندي شريط فيه - يمكن - مئات الجمل كلها يرددها بعض الناس ) خصوصاً في البلاد العربية .

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=381119401905640

*****************************************

فتوى مفرغة للشيخ صالح السحيمي هل أنشودة يا طيبة يا دوى العيان فيها استغاثة؟
احسن الله اليكم يقول :توجد لعبة للاطفال فيها انشودة تقول: ياطيبة يادوى العيان هل هذا يعتبر استغاثة بغير الله ؟
الجواب :نعم انشودة ياطيبة يادوى العيان فيا رائحة الشرك وقد تكون شركا صراحا وقد طرحت السوال على بعض مشائخنا الكبار كنت عندهم قيل يومين فمنهم من صرح بأنه شرك ومنهم من قال انه فيه رائحة الشرك فانه دعاء ونداء ،والنداء شرك بهذا الشكل فالذي يداوي العيان ،طبعاالمريض .الذي يداوي المريض هو الله عز وجل ( واذا مرضت فهو يشفين ( فكونك تنادي طيبة المدينة فنحن نحب طيبة ،نحب المدينة ولكن محبتنا لها لا تجعلنا نستغيث بها اوبترابها او بأي شي فيها ،هذا لايجوز البته
بل هذا والعياذ بالله يخشى ان يكون شركا فعلينا ان نبتعد عن كل شي فيه شرك او فيه رائحة شرك والذي يظهر لي انه شرك لأنه نداء كما لوقلت ياعلي ،يامحمد ،ياعمرو ،يازيد ولا سيما انه ربطها بدواء العيان اي مريض هذة الأنشودةالتي نسمعها الان تحت الفنادق وفي المحلات يجب أن تزال،يجب وجوبا أن تزال وهي من المنكر الذي يجب على القائمين على هذا الأمر أن يزيلوه ،نعم وكذلك أكثر مايسمى بالاناشيد الاسلامية فيه من هذا القبيل كثيرا منها لا يخلو من أبتهالات واستغاثات او الحانا تشبه الحان النساء اونحو ذلك


http://www.noor-elislam.net/vb/showthread.php?s=4e9a1ef81e50aa4ce32f0edeb0aa9da0&t=4637

*****************************************

فتوى الشيخ عبيد الجابري حفظه الله

" السائل :
أحسن الله إليكم هذا سائل يقول ظهرت في الآونة الأخيرة أنشودة وفيها بعض الألفاظ المشكلة كقوله:

يا طيبة يا طيبة يادوا العيانا !!فهل هذه الفاظ شركية جزاكم الله خيرا ؟

الشيخ: عبيد الجابري - حفظه الله - أقول:
جل الأناشيد مثل المذكورة في السؤال هي ليست من نظم أدباء أهل السنة أبداً ، وإنما هي من نظم جهلة الأدباء الذين ليسوا من أهل السنة لا يضبطهم ضابط ولا يربطهم رابط هم متفلتون ، أو من المخرفة ؛ أهل الخرافة ، ولهذا فإنك تسمع وتقرأ في نظمه أحياناًُ كلمات كفر وكلمات شرك .فأقل ما يقال في هذه القصيدة أنها بدعة ، بل الظاهر لي أنها دعاء ؛ دعاء البلد يادواء العيان .وهذا من الدعاء المحذور " ا هـ .


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=381119401905640

Rabu, 28 Desember 2011

RADIO RODJA,DAI-DAINYA BERMUAMALAH DENGAN YAYASAN AHLUL BID'AH.

1 komentar
بسم الله الرحمن الرحيم                                       
Untukmu Yang Masih Bertanya Tentang Radio Rodja
Des27 by abdullah1982
Sebenarnya penjelasan tentang pertanyaan radio rodja sudah dijelaskan oleh ustadz-ustadz kita diantaranya oleh Ustadz Muhammad Umar As-Sewwed, Ustadz Luqman Ba’abduh, Ustadz Usamah Mahri, Ustadz Afifudin dan yang lainnya yang dengan mudah kita bisa mendengarkan via internet Alhamdulillah. Dan jawaban mereka cukup insya Allah bagi yang ingin mengetahui tentang radio rodja. Namun berhubung pertanyaan ini masih terdengar ditanyakan oleh sebagian ikhwah  kepada  Asatidzah oleh karena itulah pada kesempatan ini saya  yang ingin mengatakan bagi orang yang bertanya tentang radio rodja bahwa cukup bagi kita untuk mendengarkan kajian, muhadhoroh ustadz-ustadz kita. Apa yang ada dari ilmu, faedah, pembahasan yang dibahas oleh pengisi radio rodja ada pada ustadz-ustdaz kita dan apa yang ada pada ustadz-ustadz kita tidak ada pada para pengisi rodja (dan itu semua karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki). Apa yang ada pada ustadz-ustadz kita dan tidak ada pada para pengisi Rodja di antaranya adalah apa yang saya akan sebutkan di bawah ini :
1. Ustadz-ustadz kita Alhamdulillah sangat menjaga pergaulan mereka, mereka tidak bergaul dengan ahlu bid’ah, hizbiyyin, orang-orang menyimpang, yayasan hizbi atau satu organisasi dan satu wadah dengannya. Dan seperti inilah manhaj yang haq manhaj ahlus sunnah. Mari kita simak perkataan a’imah salaf (para Imam Salaf) yang dai-dai rodja mengaku mengikuti mereka..! Tetapi praktek dan amalannya menyelisihi bahkan bertolak belakang dengan pengakuannya.
Berkata Abu Qilabah Rahimahullah :
لا تجالسوا أهل الأهواء ، ولا تجادلوهم ، فإني لا آمن أن يغمسوكم في الضلالة ، أو يلبسوا عليكم في الدين بعض ما لبس عليهم
“Janganlah kalian duduk bersama ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah –ed) dan janganlah mendebat mereka dikarenakan sesungguhnya aku tidak merasa aman mereka menjerumuskan (menenggelamkan) kesesatan kepada kalian atau menyamarkan (merancukan –ed) kepada kalian perkara agama, sebagian perkara agama yang mereka samarkan.” (Asyari’ah Al-Ajuri : 56 – Al Ibnah Ibnu Bathah : 2/437)
قال إسماعيل بن خارجة يحدث قال : دخل رجلان على محمد بن سيرين من أهل الأهواء ، فقالا : يا أبا بكر نحدثك بحديث ؟ قال : لا قالا : فنقرأ عليك آية من كتاب الله عز وجل ؟ قال : لا ، لتقومن عني أو لأقومن
Ismail bin Khorijah menceritakan, beliau berkata : “Dua orang dari ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah) masuk menemui Muhammad bin Siriin mereka berdua berkata : ‘Wahai Abu Bakar, kami akan menyampaikan satu hadits kepadamu?’ Berkata (Ibnu Siriin) : ‘Tidak.’ Berkata lagi dua orang tersebut : ‘Kami akan membacakan satu ayat kepadamu dari Kitabullah (al-Qur’an) Azza Wajjala?’ Berkata (Ibnu Siriin) : ‘Tidak. Kalian pergi dariku atau aku yang pergi.’” (Asyari’ah Al-Ajuri : 57 – Al Ibanah Ibnu Bathah : 2/446)
Berkata Imam Al Barbahari Rahimahullah:
فاحذر ثم احذر أهل زمانك خاصة وانظر من تجالس وممن تسمع ومن تصحب فإن الخلق كأنهم في ردة إلا من عصم الله منهم
“Berhati-hatilah dan berhati-hatilah kepada orang-orang yang hidup sezaman denganmu secara khusus, dan lihatlah siapa teman dudukmu, dan dari siapa engkau mendengar dan dengan siapa engkau berteman, dikarenakan manusia hampir saja menjadi murtad dari agamanya karena sebab teman bergaulnya kecuali orang yang Allah jaga.” (Syarh Sunnah Lilbarbahari)
Adapun dai-dai rodja maka mereka bergaul, berteman, bermuamalah dengan yayasan hizbi, ahlu bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang. Seperti Abu Qatadah, Zaenal Abidin LC, Khalid Syamhudi LC dan yang lainnya yang menjadi da’i dan pengisi Yayasan Hizbi As-Sofwa Lenteng Agung Jakarta, lihat juga bagaimana kelakuan Abu Qatadah yang mengisi bareng, duduk berdampingan satu meja dengan Hartono Ahmad Jaiz, Amin Jamaludin di DDII dengan Tema : “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” yang ketika itu ana masih ingat  (ketika masih ngaji dengan mereka) Amin Jamaludin berbicara membolehkan demonstrasi pada majelis tersebut. Begitu juga Abu Qatadah merekrut ustadz yang pernah belajar di Abul Hasan Al-Misri yang para ulama telah memvonisnya sebagai hizbi, mubtadi’ dan ustadz tersebut belum bertaubat darinya dan belum lama ini pun (belum ada satu tahun) Abu Qatadah menerima orang yang baru pulang setelah belajar 7 tahun di Markaznya Abul Hasan Al Misri di Yaman diterima dan disambut untuk mengajar di pondoknya sampai sekarang. Di samping itu Abu Qatadah menyalurkan dana ihyaut thurats kepada pondok yang bermanhaj khawarij, Pondok Al-Muaddib Cilacap yang di pimpin oleh mertuanya seorang teroris bernama Nurdin M. Top yang bernama Baridin.  Begitu juga Yazid Jawwas dan kawan-kawannya berkerja sama dengan salah seorang pembesar ikhwani DR. Hidayat Nurwahid, sama seorang hizbi Farid Okbah, sama sesepuh sururi dan orang yang ditokohkan oleh HASMI (Harakah Sunni Untuk Masyarakat Islam) Taufiq Shalih Al Katsiri dalam muraja’ah tafsir ibnu katsir jilid 1 Pustaka Imam Syafi’i. Tak ketinggalan Abdul Hakim bin Amir Abdat di antara penyimpanggnya dia mengisi satu majelis dengan pembesar atau seseorang yang di Syaikhkan dari ihyaut thurats Kuwait di Malaysia. Dan contoh-contoh lainnya yang sangat banyak yang hal ini merupakan manhaj da’i-da’i rodja sepanjang yang saya ketahui. Dan apa  yang mereka lakukan bukanlah sekedar kesalahan “manusiawi“ (seperti lupa, atau tidak tahu itu seorang hizbi, atau seorang yang menyimpang, ahlu bid’ah atau diundang ngisi tanpa tahu ada pembicara selain dirinya ternyata ada pembicara lain dari kalangan orang-orang yang menyimpang atau ahlu bid’ah atau kesalahan yang mereka telah ruju’ darinya dan lain-lain) tidak, tetapi yang saya sebutkan ini adalah manhaj mereka. Mereka tahu penyimpangan Ihyaut Thurats, As-Sofwa, DDII, Al-Irsyad, L-Data, Taruna Al-Qur’an, Abdurrahman Abdul Khaliq, Abul Hasan Al-Misri, Thariq Suwaidan, Hidayat Nurwahid, Amin Jamaluddin, Taufiq Shalih Al-Katsiri, Yusuf Utsman Ba’isa dan yang lainnya tetapi mereka tetap bermuamalah dengan mereka bahkan membela sebagian mereka.Wallahu musta’an.
2. Alhamdulillah ustadz-ustadz kita,  sikap mereka tegas dengan ahlu bid’ah apalagi sama tokoh dan para pembesarnya, hal ini bisa kita lihat dan dengarkan dalam ceramah-ceramah mereka dalam muhadhoroh-muhadhoroh mereka yang tak jarang memberi peringatan kepada ummat dari bahaya ahlu bid’ah. Hal ini yang tidak ada pada mereka (ustadz-ustadz rodja), secara umum pengisi radio rodja -sebatas yang ana tahu- plintat plintut dalam menyikapi sebagian ahlu bid’ah, tidak membantahnya atau diam atas penyimpangan mereka, seperti tidak membantah atau diam atas penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq, Abul Hasan Al Misri dan yang lainya sebagaimana diamnya Firanda MA, Abdullah Taslim MA dan  selainnya atas kesesatan dan penyimpangan Abdurrahman Abdul Khaliq dan Yayasan Ihyaut Thurats yang mereka berdua mengaku mengetahui dan mempunyai bukti-bukti kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan penyimpangan yang ada di tubuh Ihyaut Thurats. Bahkan salah seorang dari pembicara rutin radio rodja yaitu Ali Subana malah memuji seorang ahlu bid’ah dan bahkan pembesar ahlu bid’ah pada zaman ini yaitu DR. Yusuf Al-Qardhawi. Sebagaimana hal ini diceritakan oleh salah seorang ikhwan yang dulu pernah tinggal bersama keluarganya di Qatar dan dia ikut majelisnya Ali Subana di sana. Suatu ketika Ali Subana pernah ditanya tentang Yusuf Qardhawi dengan pertanyaan, ‘Siapakah Yusuf Qardhawi?’ Kata seorang penanya yang ikut di majelisnya di Qatar, lalu Ali Subana menjawab, “Yusuf Qardhawi termasuk ulama pada abad ini.” Lalu ikhwan kita ini berkata ketika menceritakannya kepada saya : “Ana mendengar sendiri dengan telinga ana bahwa Ali Subana menjawab seperti itu.”
Atau cerita salah seorang ikhwan dari Jakarta yang baru saja mengenal ta’lim satu sampai dua tahun yang pernah bertanya kepada ana tentang radio rodja, lalu ana jelaskan tentang pemateri di radio Rodja sampai tentang Ali Subana yang memuji Yusuf Qardhawi lalu ia pun berkata: “Ia.., ana pernah dengar di radio rodja Ali Subana menukilkan perkataan Yusuf Qardhawi ana pun kaget setahu ana Yusuf Qardhawi sesat.”
Insya Allah kita semua tahu siapa DR. Yusuf Qardhawi, seorang tokoh dan pembesar ikhwanul muslimin, seorang tokoh sesat yang sangat terkenal yang sangat jelas kesesatannya, kalau yang seperti ini saja masih direkomendasi sama salah seorang dari pembicara radio Rodja lalu bagaimana dengan tokoh sesat  dan menyimpang lainnya..?! Di antaranya seperti Ali Hasan bin Abdul Hamid dan Salim bin Ied Al-Hilali jelas lebih mereka rekomendasi dan bela walaupun para ulama telah menjarhnya dan sebagian telah mentabdi’nya.
Berikut ini saya bawakan sekelumit dari perkataan para ulama ahlussunnah tentang kesesatan DR. Yusuf Al-Qardhawi.
Berkata Asy Syaikh Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi Rahimahullah tentang kesesatan Yusuf Al Qardhawi, beliau berkata : “Sejumlah kebatilan (Yusuf Qardhawi) yang dibantah, di antaranya : 1. Seruan untuk mencintai Yahudi dan Nashrani, 2. Propoganda terhadap gerakkan pendekatan (penyatuan) berbagai agama dan sering menghadiri muktamar gerakan tersebut, 3. Berpendapat bahwa jihad hanya disyariatkan untuk bertahan saja, bukan untuk memerangi orang-orang kafir. 4. Berpendapat demokrasi adalah syura’ yang telah dibahas secara luas di dalam fiqih Islam, 5. Membolehkan wanita  bergabung bersama laki-laki di parlemen bahkan memiliki  hak untuk dipilih dan memilih, 6. Membolehkan banyak hizb (golongan) dan firqah (kelompok) dengan beragam pemikiran dan manhaj berbeda, diserupakn dengan banyaknya madzhab dalam masalah fiqih, 7. Berusaha mencampurkan sufi dengan salafi, dan  berusaha mensufikan salafiyah dan mensalafikan sufiyah. Dan masih banyak lagi kebodohan dan kesesatan Yusuf al-Qardhawi yang menghancurkan Agama dari dasarnya, bagaikan meruntuhkan bangunan dari pondasinya.” (Kata Pengantar Syaikh Ahmad An-Najmi pada kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalafatil Qardhaawi Li Syarii’atil Islam)
Berkata Asy-Syaikh al-Muhadits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i : “ Di antara sekian banyak da’i sesat yang mengajak kepada kesesatan pada zaman sekarang ini adalah Yusuf Al-Qardhawi, mufti Qatar. Sungguh dia (Qardhawi) telah menjadi amunisi baru bagi musuh-musuh Islam. Dia telah mencurahkan lisan dan penanya guna menyerang dienul islam.” (Kata pengantar Syaikh Muqbil pada kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalafatil Qardhaawi Li Syarii’atil Islam)
3. Alhamdulillah ustadz-ustadz kita tidak ada yang mengambil dana dari yayasan hizb penyebar manhaj khawarij Ihyaut Thurats bahkan ustadz-ustadz kita memperingatkan dari bahaya bermuamalah dengan Ihyaut Thurats dan bahaya pendirinya yaitu Abdurrahman Abdul Khaliq adapun sebagian mereka mengambil bahkan menjadi gembong dan kaki tangan dari yayasan hizbi Ihyaut Thurats seperti Abu Qatadah dan Abu Nida LC. Dan lihat juga kelakuan salah satu pembicara radio rodja yang bernama Firanda MA. yang membela mati-matian yayasan hizbi Ihyaut Thurats, padahal dalam banyak kesempatan dia dan Abdullah Taslim MA. mengakui bahwasanya dia mengetahui penyimpangan Ihyaut Thurats dan mempunyai data-data penyimpangannya, sekarang kita tanyakan kepada mereka Firanda dan Abdullah Taslim yang keduanya menjadi pembicara radio rodja, “Mana bantahan kalian terhadap Abdurahman Abdul Khaliq atau Ihyaut Thurats atau As Sofwa dalam ceramah, muhadoroh, dan tulisan-tulisan kalian..?! Bukankah kalian mengetahui penyimpangan Ihyaut Thurats, Abdurahaman Abdul Khaliq sebagaimana pengakuan kalian sendiri, lalu mana pengamalanmu pada hadits ini wahai Firanda..?! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, maka apabila tidak bisa ubahlah dengan lisannya, maka apabila tidak bisa maka dengan hatinya yang demikian selemah-lemah iman” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudry)
Justru kalian malah membantah orang yang membantah ihyaut thurats dan Abdurhaman Abdul Khaliq. Katanya kalian tahu tentang penyimpangan Abdurahman Abdul Khaliq dan ihyaut thurats, lalu kenapa tidak membantah, menjelaskan penyimpangan orang yang melakukan penyimpangan (Abdurrahaman Abdul Khaliq) supaya ummat secara sebab selamat dari bahaya penyimpangan mereka, kok malah membantah orang yang membantah penyimpangan Abdurahman Abdul Khaliq dan Ihyaut Thurats. Kemana akal sehatmu wahai Firanda..!
4. Ustadz-ustdaz kita Alhamdulillah menjaga pakaiannya dan adab-adabnya dengan memakai sarung atau jubah di kesehariannya, adapun sebagian mereka (pengisi) radio rodja tidak sedikit yang memakai banthalun, atau bahkan celana yang agak ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka (maaf –pantat mereka-) bahkan ketika shalat dan ta’lim. Saya punya pengalaman buruk ketika masih ikut ta’lim dengan salah satu pengisi radio rodja tentang celana banthalun, yang saya malu untuk menceritakannya di sini. Wallahu musta’an
Inilah sedikit penjelasan dari saya untuk saudaraku yang bertanya tentang radio rodja yaitu untuk mencukupkan dengan mendengar kajian ustadz-ustadz kita karena apa yang ada pada pengisi radio rodja dari ilmu dan faedah ada pada ustadz-ustadz kita dan sebaliknya apa yang ada pada ustadz-ustadz kita (yang telah saya sebutkan di atas) tidak ada pada ustadz-ustadz rodja. Selain dari itu sama-sama kita ketahui dari perkataan Ibnu Siriin yang Insya Allah menutup “perjumpaan kita”, yang beliau berkata :
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesunguhnya ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Dan perkataan Syaikh ‘Abdullah Mar’i Hafidzahullah : “Jangan sampai mereka yang dulunya salafiyyin (ketika mendengar radio rodja –ed) menjadi Khalafiyyin (orang menyelisihi manhaj salaf –ed)” (sumber : rekaman pertemuan Tanah Abang Jakarta) .
Wallahu muwwafiq
Ditulis oleh : Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

Selasa, 20 Desember 2011

Malaikat, Manusia dan Jin Tidak Dapat Mengetahui yang Ghaib

0 komentar
Buletin Islam AL ILMU Edisi: 12/3/9/1432
Istilah “penampakan” sudah akrab di telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Bagaimana pandangan syariat menyoroti hal ini? Bagaimana pula dengan keyakinan bahwa sebagian manusia bisa mengetahui hal-hal ghaib?
Simak bahasan berikut!

Mempercayai hal-hal yang ghaib merupakan salah satu syarat dari benarnya keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
“Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,… ” (Al-Baqarah: 2-3)
Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang lainnya yang tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, 1/53).
Alam jin dan wujud jin dalam bentuk asli seperti yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan adalah ghaib bagi kita. Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk –dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala – dan amat mungkin bagi mereka melakukan penampakan, sehingga kita dapat melihatnya dalam wujud yang bukan aslinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Dari Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah, beliau bercerita bahwa dirinya pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, katanya: “Aku mendapatinya tengah mengerjakan shalat, akupun duduk menunggunya hingga beliau selesai. Tiba-tiba aku mendengar adanya gerakan pada bejana tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku menoleh ke arahnya dan ternyata ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk membunuhnya, namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. Ketika ia selesai dari shalatnya, ia menunjuk ke sebuah rumah yang ada di kampung itu sambil berkata: ‘Apakah engkau lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia kemudian menuturkan, ‘Dahulu yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda yang baru saja menjadi pengantin. Kala itu kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke Khandaq dan pemuda itu pun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk pulang menemui istrinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengizinkannya sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu karena aku khawatir engkau bertemu dengan orang-orang dari Bani Quraidhah.’ Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian pulang menemui istrinya. Setibanya di rumah, ternyata istrinya sedang berdiri di antara dua daun pintu. Ia mengarahkan tombaknya kepada istrinya untuk melukainya karena merasa cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata kepadanya: “Tahan dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah sehingga engkau akan tahu apa yang menyebabkan aku sampai keluar rumah!”
Pemuda itu masuk, dan ternyata terdapat seekor ular besar yang melingkar di atas tempat tidur. Pemuda itu lantas menghunuskan tombaknya dan menusukkannya pada ular tersebut. Setelah itu, ia keluar dan menancapkan tombaknya di dinding rumah. Ular itu (yang belum mati, red.) menyerangnya dan terjadilah pergumulan dengan ular tersebut. Tidak diketahui secara pasti mana di antara keduanya yang lebih dahulu mati, ular atau pemuda itu.’
Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu melanjutkan ceritanya: ‘Kami menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan kepada beliau: ‘Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menghidupkannya demi kebahagiaan kami.’ Beliau menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk shahabat kalian itu!’
Selanjutnya beliau bersabda: ‘Sesungguhnya di Madinah terdapat golongan jin yang telah masuk Islam, maka jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah peringatan tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu, bunuhlah ia, karena sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah)
Para Rasul Tidak Mengetahui yang Ghaib
Telah disebutkan bahwa sekumpulan jin datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian mendengarkan bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah sebuah pohon memberitahunya –dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjadikan pohon dapat berbicara– seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan. (Nashihati li Ahlis Sunnah Minal Jin). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Al-An’am: 50). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Para Malaikat Tidak Mengetahui yang Ghaib
Kendatipun para malaikat adalah mahluk yang dekat di sisi Subhanahu wa Ta’ala, namun untuk urusan ghaib ternyata mereka pun tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman saat pertama kali hendak menciptakan manusia (artinya):
“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka (para malaikat) berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Al-Baqarah: 30-32)
Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
Banyak sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira jika bangsa jin mengetahui yang ghaib, terutama bagi mereka yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan. Akibatnya, kepercayaan dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah besar sehingga menggiring mereka kepada kekufuran.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas telah mementahkan anggapan ini dalam firman-Nya:
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14)
Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam Ghaib
Jika para rasul yang merupakan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menyampaikan syariat-Nya kepada manusia tidak mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, maka sudah tentu manusia secara umum tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib atau menjangkau batasan-batasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan agar mengimani perkara yang ghaib dengan keimanan yang benar.
Keyakinan seperti ini agaknya sudah mulai membias. Apalagi saat ini banyak sekali orang yang menampilkan dirinya sebagai narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang, dari mulai jodoh, karir, bisnis, atau yang lainnya.
Kata ‘dukun’ barangkali sekarang ini jarang didengar dan bahkan serta merta mereka akan menolak bila dikatakan dukun. Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak meminta syarat-syarat apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh memotong ayam putih”, dan sebagainya. Padahal praktek seperti itu adalah praktek dukun juga. Bedanya, dukun sekarang ini berpendidikan sehingga bahasa yang digunakannya pun bahasa-bahasa kekinian, sehingga mereka jelas enggan disebut dukun. Tak ada seorang pun yang dapat melihat dan mengetahui perkara ghaib, menentukan ini dan itu terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi di masa datang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.”(Saba`:20-21)
Ada pula sebagian manusia yang memiliki aqidah rusak, di mana mereka meyakini adanya sebagian orang yang keberadaannya ghaib dari pandangan manusia, dan biasanya identik dengan orang-orang yang dianggap telah suci jiwanya. Mereka mengistilahkannya dengan roh suci atau rijalul ghaib.
Ketahuilah bahwa tidak ada istilah manusia ghaib. Tidak ada pula istilah rijalul ghaib di tengah-tengah manusia. Rijalul ghaib itu tiada lain adalah jin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6) (Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152).
Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu yang tidak bisa diketahui dan dilihat manusia kecuali apa yang telah Allah Subhanallahu wa Ta’ala beritakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)
Kunci-kunci Ghaib adalah Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Semata
Sesungguhnya tak ada seorangpun yang mengetahui perkara ghaib dan hal-hal yang berhubungan dengannya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak menegaskan hal ini dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Yang demikian itu ialah Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (As-Sajdah: 6)
Dalam ayat lainnya Allah berfirman: “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?’.” (Al-Baqarah: 33)
Banyak sekali dalil-dalil yang berhubungan dengan masalah ini. Namun mungkin yang disebutkan di sini, sudah dapat mewakili bahwa Allah-lah yang mengetahui hal ihwal alam ghaib. Sedangkan manusia, jin, dan malaikat tak ada yang bisa mengetahui dan melihatnya kecuali apa-apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasakan.
Mudah-mudahan semua uraian-uraian di atas bermanfaat bagi kita semua. Amin yaa Mujiibas sa`iliin. Wal ’ilmu ‘indallah.
(Disalin dengan sedikit perubahan dari artikel dengan judul yang sama oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf dalam majalah Asy Syari’ah Vol. II/No. 23/1427 H/2006)
 

Ka'bah Night | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id