Jumat, 25 Mei 2012

Salah Satu Usaha Supaya Cepat Punya Anak Dengan Herbal

0 komentar

Obat Herbal Supaya cepat Punya Anakternyata bisa diramu sendiri. Banyak orang yang lama menanti kehadiran sang anak, bahkan sampai ke dokter spesialis tapi hasilnya masih nihil. Cobalah ramuan obat untuk cepat punya anak sendiri. Sangat mudah membuatnya dan bahannya banyak diperoleh di kebun atau sawah sekitar kita. 
Karena anak adalah penerus dari keturunan sesorang yang sudah berkeluarga. 

Mempunyai anak atau keturunan merupakan keinginan dari pasangan yang telah menikah. Namun tidak semua pasangan mudah mendapatkan keturunan. Kesulitan mempunyai anak bisa berasal dari wanita, pria, atau kedua-duanya. Untuk kepastiannya perlu pemeriksaan ke dokter ahli dengan ditunjang pemeriksaan laboratorium.

Berikut obat untuk cepat punya anak : 
Bahan yang diperlukan :
· Tanaman Baru Cina (10-30 gram)
· Air (4 gelas sedang)
Caranya :
Rebus tanaman Baru Cina dalam 4 gelas air hingga tersisa 2 gelas. 

Pemakaian :
Setelah dingin, minum ramuan tersebut 2 kali sehari masing-masing 1 gelas.

Ciri-ciri Tanaman Baru Cina :
Habitus atau tumbuh di Semak, menahun, tinggi 30-90 cm Batang Berkayu, bulat, bercabang, putih kotor
Daun : Tunggal, tersebar, berbagi menyirip, berbulu, panjang 8-12 cm, lebar 6-8 cm, pertulangan menyirip, permukaan daun atas hijau, permukaan bawah keputih-putihan
Bunga : Majemuk, bentuk malai, di ketiak dan di ujung batang, daun kelopak lima, hijau, benangsarikuning,kepalaputikbercabangdua,ungu,coklat
Buah :Kotak,bentuk jarum, kecil, coklat
Biji : Kecil,coklat
Akar : Tunggang, kuning kecoklatan

Tanaman ini dikenal dengan nama yang berbeda, berikut ini nama lain atau sebutan untuknya : 
Melayu : Baru    cina
Sunda:    Beungkar kucicing
JawaTengah : Suket gajahan
Halmahera : Kolo
Ternate : Goro-goro cina

Semoga, obat untuk yang susah punya keturunan tersebut bisa bermanfaat bagi anda yang memang sudah mendambakan seorang anak atau buah hati. Anak dapat menjadikan tempat mencurahkan kasih sayang selain kepada suami atau istri. Rasa capek dan stres yang ditimbulkan akibat pekerjaan atau aktivitas bisa hilang dengan bercanda bersama nak kita.

Kamis, 17 Mei 2012

Ujian: Sebuah Kemestian

0 komentar

Oleh: Abu Hisyam Sufyan

Telah menjadi ketentuan Allah bahwa Ia akan menguji setiap hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menghalangi Allah untuk melakukannya. Dengan ujian ini, diketahui lah orang-orang yang benar dalam keimanannya dan orang-orang yang dusta dalam keimanannya. Allah berfirman di dalam surat Al Ankabut: 2-3, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?*, dan sungguh telah Kami uji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta (di dalam keimanannya)”.
Di antara bentuk ujian yang Allah persiapkan untuk hamba-Nya adalah adanya berbagai macam musibah. Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami uji kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. [Al Baqarah: 155] 
Sabar sebagai solusi
Pembaca yang budiman, adanya musibah yang bertubi-tubi mengguyur negeri yang kita cintai ini menuntut adanya solusi dan jalan keluar, sehingga kita tidak terlampau berduka cita karenanya. Dengan rahmat-Nya, Allah telah memberitahukan kepada kita sebuah solusi dan jalan keluar ketika musibah menghampiri kita. Kesabaran merupakan sikap seorang muslim ketika tertimpa musibah.
Di dalam Al Qur`an, Allah banyak bertutur mengenai sifat sabar. Ia memerintahkan para hamba-Nya untuk bersabar, menerangkan keutamaan sifat sabar, menyebutkan ganjaran bagi para penyabar dan lain-lainnya. Di antaranya Allah berfirman (artinya), ”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (dalam kesabaran) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. [Ali ‘Imran: 120].
Bahkan, pada ayat yang lain Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar. Allah berfirman (artinya), “Bersabarlah (wahai Nabi) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah….” [An Nahl: 127].
Dan sebagai bentuk keutamaan sifat sabar ini, “Allah telah menyebutkan sifat sabar di 90 tempat di dalam kitab-Nya” kata Imam Ahmad. Hal ini tentunya menunjukan pentingnya sifat  sabar dan keutamaannya.
Rasulullah juga bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang muslim, apabila ia mendapatkan kenikmatan maka ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa suatu musibah ia pun bersabar dan itu pun merupakan suatu kebaikan baginya” [H.R. Muslim dari sahabat Shuhaib Ar-Rumy]. Beliau juga bersabda :
“Barang siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah akan membuatnya bersabar. Tidaklah seseorang yang diberi dengan suatu pemberian yang lebih berharga dan lebih luas dari pada kesabaran” [H.R. Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudry]. Ayat dan hadits ini menunjukan bahwa sabar termasuk perangai seorang mukmin. Dengan kata lain, seorang mukmin harus memiliki sifat sabar. Oleh karena itulah, para ulama juga menegaskan bahwa sabar termasuk dari keimanan.
Lebih jauh, marilah kita simak ucapan para generasi terbaik umat ini mengenai sifat sabar ini. ‘Umar bin Al-Khatthab mengatakan, “Kami mendapati kehidupan terbaik kami dengan kesabaran”.
‘Ali bin Abi Thalib juga berkata, “Kedudukan sabar di dalam keimanan bagaikan kedudukan kepala bagi jasad.” Kemudian beliau mengangkat suaranya seraya mengatakan, “Ketahuilah!! Sesungguhnya tidak ada keimanan bagi siapa pun yang tidak memiliki kesabaran”.
Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, seorang ulama dan penguasa yang sholeh, berkata, “Barang siapa yang diberi oleh Allah suatu nikmat akan tetapi kemudian Allah cabut nikmat tersebut, namun Allah ganti dengan sifat sabar, melainkan apa yang Allah ganti tersebut lebih baik daripada apa yang Ia cabut (yakni kesabaran tersebut lebih baik daripada nikmat yang Allah ambil)”. Inilah beberapa untaian perkataan para ulama yang berkaitan dengan keutamaaan sifat sabar.
Hakekat sabar dan pengertiannya
Secara bahasa sabar bermakna menahan. Yakni, menahan jiwa kita dari terlampau bersedih atau bermuram durja, menahan lisan dari berkeluh kesah dan menahan anggota badan dari melakukan hal-hal yang Allah larang.
Memang, bersedih ketika tertimpa musibah merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, menjadi terlarang jika kemudian menyebabkannya melakukan apa-apa yang kita sebutkan tadi. Ia terlampau bersedih sehingga terus menerus dalam kesedihan atau bahkan menjadi sesorang yang putus asa dari rahmat-Nya, sehingga ia menjadi seperti yang sering digambarkan “mati segan hidup tak mau”.
Berkeluh kesah dalam artian ia terus mengucapkan hal-hal yang semestinya tidak boleh ia katakan. Seperti mencela diri sendiri dan terus menyalahkannya. Atau bahkan -na’udzubillah- ia mencela takdir dan tidak terima dengannya. Ia menganggap Allah telah berbuat tidak adil padanya. Menampar pipi, mengoyak pakaian, dan mengacak-acak rambut juga sebagian contoh hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan-perbuatan ini teramat sering terjadi ketika seseorang meratapi mayit.
Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Bukan termasuk dari golongan kami siapapun yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah” [H.R. Bukhari dan Muslim]
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Allah  melaknat para wanita yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian dan berseru dengan seruan kecelakaan dan kebinasaan”. [H.R. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].
Bahkan Rasulullah bersabda, “Apabila wanita yang meratapi mayit itu tidak bertaubat dari perbuatannya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan ia mengenakan pakaian dari tembaga yang meleleh dan gaun dari penyakit kudis.” [H.R. Muslim].
Macam-macam sabar
Para pembaca yang mulia, para ulama telah menerangkan bahwa sabar itu ada tiga macam:
  1. Sabar ketika tertimpa musibah -hal ini telah lalu penjelasannya-,
  2. Sabar ketika melakukan ketaatan, dan
  3. Sabar ketika menjauhi larangan.
Telah kita ketahui bersama bahwa iblis dan bala tentaranya tidak akan pernah diam untuk menggelincirkan anak Adam. Godaan mereka akan semakin besar ketika mereka tahu para manusia tenggelam di dalam ketaatan kepada-Nya. Berbagai macam cara dan srategi akan ia kerahkan demi tercapainya ambisi jahat yang ia idam-idamkan. Seseorang yang bertakwa kepada Allah yang senantiasa berusaha taat dan patuh terhadap titah Rabb dan Rasul-Nya, pastilah harus menyiapkan bekal kesabaran yang besar untuk menahan serangan dan gempuran iblis dan bala tentaranya. Semakin ia mendekat kepada Allah, semakin besar pula kesabaran yang harus ia miliki.
Para rasul, sebagai manusia terbaik di dalam ketaqwaan dan ketaatan pun tak lepas dari gangguan-gangguannya. Dan kisah-kisah mereka telah kita ketahui. Cobaan dan rintangan tidak membuat mereka goyah untuk tetap melaksanakan beban yang telah dipikulkan untuk mereka. Begitu pula orang-orang yang berusaha meniti jalan para Rasul. Mereka pun tak lepas dari gangguan Iblis dan bala tentaranya. Semakin mereka berusaha meniti dan mengikuti jalan para Rasul, semakin besar pula ujian yang menantangnya. Jika begitu, kesabaran mutlak dibutuhkan di dalam setiap keadaan. Allah lah tempat meminta tolong.
Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, kemudian yang serupa dengan mereka. Setiap manusia akan diuji sesuai kadar keimanannya. Apabila ia memiliki keteguhan di dalam agamanya, maka ujiannya akan semakin berat. Begitu pula kalau ia memiliki kelembekan di dalam keimanannya,maka ia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Senantiasa ujian bertubi-tubi menimpa seorang hamba, sampai ujian meninggalkannya berjalan di muka bumi ini dan tidak ada sedikit pun dosa yang tersisa padanya” [H.R. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Ganjaran bagi para penyabar
Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa kesabaran merupakan sikap terpuji yang seharusnya dimiliki setiap muslim. Sabar juga membutuhkan usaha yang berat untuk merealisasikannya. Karena itulah, Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi para penyabar. Allah berfirman,“Sesungguhnya hanya para penyabarlah yang pahala mereka akan diberikan tanpa batas.” [Q.S. Az-Zumar:10].
Di ayat yang lain Allah mengabarkan ganjaran bagi para penyabar, “Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Q.S. Al Baqarah: 157].
Inilah beberapa ganjaran dan pahala yang Allah persiapkan bagi hamba-Nya yang bersabar. Lantas, apakah kita sudah termasuk orang yang bersabar?

Sedikit renungan
Para pembaca yang mulia, ketika musibah menimpa kita, hendaknya kita benar-benar waspada jangan sampai kita berucap dengan perkataan yang membuat Allah murka kepada kita dan menghilangkan pahala yang Ia persiapkan. Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Segala yang dilakukan oleh Allah pasti dilakukan di atas hikmah. Allah berhak untuk memberi dan mengambil kembali segala milik-Nya. Allah tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-Nya akan tetapi para makhluk lah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Hendaknya orang yang tertimpa musibah menyadari bahwa kesedihannya tidak akan menyingkirkan atau merubah apa yang telah terjadi. Atau bahkan akan semakin bertambah musibahnya. Kesedihannya yang begitu mendalam telah membuat Allah murka, para syaithan bersorak-sorai, amalan-amalannya gugur, dan melemahkan diri sendiri. Semua ini juga musibah, justru ini merupakan musibah yang lebih besar. Kalau begitu, ini namanya membangun banyak musibah di atas satu musibah yang menimpanya. Hendaknya ia juga tahu bahwa meskipun kesedihannya telah mencapai puncak akhirnya ia harus bersabar pula. Hal ini tidak akan mengubah apapun kecuali menambah kemurkaan jika ditambah dengan melakukan apa yang Allah larang. Tentulah ini bukan perbuatan terpuji.
Rasulullah bersabda, “Kesabaran yang hakiki itu adalah yang berada ketika pertama terjadinya musibah” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim]. Datangnya musibah secara tiba-tiba, memang dapat menyebabkan kesedihan yang menggoncang. Apabila ia bersabar pada kali pertama terjadinya musibah, maka kedahsyatan dan kekuatan musibah itu akan hilang dan lebur sehingga ia akan mudah untuk bersabar pada hal-hal yang selanjutnya.
Dahulu para ulama mengatakan, “Kalau kamu bersabar, berarti engkau hanya tertimpa satu musibah. Kalau kamu tidak bersabar, berarti kamu tertimpa dua musibah”.
Seorang yang arif akan menjadikan musibah yang menimpanya sebagai ladang untuk menuai banyak pahala. Dengan musibah tersebut ia berkesempatan untuk bersabar, mengucapkan istirja’ (innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un), dan ibadah lain yang terkadang tidak kita bayangkan. Yang mana ini tergantung pada tingkatan ilmu yang ia punyai. Maka, marilah kita jadikan musibah ini sebagai ladang pahala dan cambukan untuk memperbaiki diri-diri kita.
Walillahil hamdu ‘ala kulli hal wallohu a’lam bish showab.

sumber : http://tashfiyah.net/2010/11/ujian-sebuah-kemestian

Istri Dambaan, Istri Shalihah

0 komentar
Keluarga bahagia adalah dambaan setiap orang, keluarga mawadah dan rahmah yang penuh barakah adalah impian. Bagaimana tidak? Setelah capek dan letih bergelut mencari nafkah di dunia, tentu membutuhkan suasana yang menyenangkan di rumah. Senyum dan pelayanan istri, sambutan si buah hati seolah menyegarkan kembali penatnya badan dan pikiran. Oleh sebab itulah berbagai usaha ditempuh untuk mewujudkannya. Walaupun harus menyita waktu, tenaga, pikiran bahkan uang. Banyaknya praktik konsultasi keluarga, rubrik-rubrik dan program acara keluarga dalam banyak media, bahkan majalah khusus keluarga begitu mudah kita dapatkan di sekitar kita. Ini menunjukkan bahwa keluarga sakinah menjadi perhatian. Semua membutuhkan, semua mengusahakan, dan mendambakannya.
Agama kita yang sempurna ini, alhamdulillah, mengatur semuanya, dari sebelum menikah bagaimana kriteria pasangan yang baik dan cara mencarinya, mengatur pula pada saat menikah bagaimana prosesi yang syar’i, sampai setelah menikah saat menjalani bahtera rumah tangga. Semua dijelaskan dalam Al-Quran, diterangkan dalam hadits, dan dijabarkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka. Tinggal bagaimana kita berusaha mencari dan mengkaji, memahami dan mengamalkannya. Jadi, yang pertama dibutuhkan dalam membina keluarga sakinah adalah ilmu agama.
Pembaca, dalam mencari pasangan, Allah mengajarkan:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” [Q.S. An-Nur:26].
Rasulullah juga telah membimbingkan, dalam haditsnya beliau bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara; harta, garis keturunan yang bagus, kecantikan, atau agamanya. Maka pilihlah agamanya, kalau tidak, engkau akan hina.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah z].
Ayat dan hadits ini membimbing agar perkara yang diutamakan dalam mencari pasangan adalah keagamaan yang baik. Ketika agama yang dipilih, maka jalan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat dapat tercapai. Kebahagiaan di dunia akan dirasakan manakala bisa memiliki sebaik-baik perbendaharaan dan perhiasan dunia, yaitu istri shalihah. Keshalihan seorang istri lah yang akan mengukir kebahagiaan di hati dengan kebagusannya dalam bergaul, kepatuhannya terhadap perintah serta kredibilitasnya dalam menjaga kehormatan dan harta. Rasulullah  ` bersabda yang artinya, “Dunia itu perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menyenangkanmu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau pergi meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu’. [H.R. Ahmad dan An-Nasa`i. Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits yang semakna dari sahabat Abu Hurairah z, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil].
Hidup berdampingan dengan istri shalihah, akan membantu dalam peribadahan kepada Allah. Sehingga akan mengantarkan kepada kebahagiaan ukhrawi yang lebih sempurna. Umar bin Khaththab z pernah bertanya kepada Rasulullah ` tentang harta apakah yang sebaiknya kita miliki, beliau ` menjawab, “Hendaklah kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan istri mukminah yang membantu dalam perkara akhirat kalian.” [H.R. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani v dalam Shahih Ibnu Majah]. Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang butuh teman hidup yang bisa menjadikan agamanya lebih baik. Teman hidup itu tak lain adalah istri shalihah. Seorang istri yang tatkala engkau terlelap di malam hari, dialah yang akan membangunkanmu untuk shalat malam. Saat lemah dan malas menghampiri, dialah yang membangkitkan semangatmu untuk kembali beramal. Dialah yang selalu mengulurkan tangannya untukmu sebelum engkau minta sebagai wujud pengamalan terhadap firman-Nya
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”  [Q.S. Al-Maidah:2].
Demikianlah sekelumit ulasan yang melatarbelakangi seseorang menjadikan agama sebagai pertimbangan utama dalam mencari pasangan. Dengan memilih pasangan sebagaimana yang dituntunkan syariat, diharapkan tujuan-tujuan pernikahan dapat tercapai. Seseorang juga akan lebih merasakan hikmah diciptakannya pasangan ketika kriteria keshalihan sebagai pegangan. Karena istri shalihah lah yang akan membuat hati tenteram dengan selalu mengikat rasa cinta dalam ibadah yang mulia ini
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”  (Q.S. Ar Rum : 21). Allahu a’lam. Farhan.

 sumber : http://tashfiyah.net/2011/04/istri-dambaan-istri-shalihah

Istri Terpilih

0 komentar
Seorang laki-laki mencari istri yang berasal tidak jauh dari daerah tempat tinggalnya. Alasannya agar nantinya silaturahmi ke keluarga menjadi lebih mudah dan dekat. Sementara lelaki yang lain ingin punya istri yang berlatar belakang sama, untuk menghindari banyak perbedaan dan agar lebih bisa saling memahami. Yang lain lagi mengharap dapat pendamping hidup yang sejajar status sosial, pendidikan dan tingkat ekonominya. Tujuannya agar hubungan dan jalinan dua keluarga lebih erat. Begitulah kurang lebih gambaran latar belakang seseorang mengedepankan salah satu kriteria bagi wanita yang akan dijadikan teman hidupnya.
Tatkala seorang laki-laki memilih pendamping hidup, terkadang setelah mengutamakan perkara agamanya, ia juga memilih sejumlah kriteria yang diprioritaskan. Wajah, postur tubuh, warna kulit, keluarga, asal daerah, suku dan lain-lain menjadi tolok ukur sebelum menjatuhkan lamaran. Syariat tidaklah melarang yang demikian, terlebih bila dapat mendatangkan kemaslahatan setelah pernikahan. Namun, sebelum kriteria-kriteria tersebut menjadi tolok ukur, alangkah baiknya seseorang terlebih dahulu mengacu pada kriteria yang disebutkan oleh syariat. Di antaranya adalah wanita tersebut mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Penyayang
Telah tercatat dalam lembaran kitab hadits sebuah riwayat tentang anjuran Rasulullah ` untuk menikah dengan wanita yang penyayang. Rasulullah ` bersabda, “nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur.” [H.R. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Al Irwa’]. Sifat penyayang bila melekat pada seorang wanita, akan lebih menambah cinta kasih suami padanya. Karena, wanita yang penyayang senantiasa berupaya menjadikan keridhaan suami ada pada dirinya. Sehingga dia persiapkan dirinya dengan berbagai perkara yang dapat membahagiakan suami. Begitu pula sifat yang dimiliki wanita ahli surga. Yaitu wanita yang wadud, yaitu sangat pecinta atau penyayang terhadap suaminya. Sifat penyayang bila menghiasi kehidupan sepasang suami istri, akan terwujud hikmah sebuah pernikahan dan akan melanggengkan kebahagiaan hidup berumah tangga.
  1. Subur rahimnya.
Hadits di atas menyebutkan bahwa Rasulullah juga memberikan hasungan untuk menikahi wanita yang banyak melahirkan anak. Hal ini menjadi sebuah kebanggaan pemimpin nabi dan rasul di hadapan para nabi yang lain. Sebagaimana Rasulullah ` bersabda, “karena sesungguhnya aku berbangga di hadapan para nabi dengan jumlah umatku yang banyak pada hari kiamat.”. Sifat yang kedua ini perlu ada untuk terealisasinya hikmah pernikahan berupa keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Seorang istri yang penyayang terhadap suaminya, tapi tidak dapat melahirkan anak, tidak dapat memenuhi harapan seseorang untuk mendapatkan anak yang shalih dan shalihah. Kehadiran anak menjadi dambaan terbesar setiap suami istri. Keberadaannya merupakan penyempurna kebahagiaan dan penyejuk mata bagi kedua orang tua. Allah berfirman,
 ﮣ  ﮤ  ﮥ     ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ   ﮮ    ﮯ  ﮰ
Dan (para hamba Allah itu adalah) mereka yang berdoa, ya Allah Rabb kami, karuniakanlah kepada  kami dari istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi bagi orang-orang yang bertakwa.”. [Q.S. Al Furqan:74].
Wanita yang subur rahimnya bisa diketahui dengan melihat kerabatnya seperti ibu atau saudara perempuan yang telah menikah.
3. Gadis (perawan)
Menikahi wanita yang masih perawan juga merupakan anjuran Rasulullah ` sebagaimana dalam hadits, “hendaknya kalian menikah dengan para gadis. Karena mereka lebih riang percakapannya, lebih subur kandungannya (banyak anak) dan lebih ridha dengan (pemberian) yang sedikit.” [H.R. Ibnu Majah, dihasankan Syaikh Al Albani dalam As Shahihah]. Seorang yang menikah dengan gadis, akan merasa lebih dekat dan mesra dalam kebersamaan dengannya. Karena pernikahan seorang gadis dengan suaminya adalah pengalaman yang pertama kali, maka rasa cintanya terhadap suaminya akan menjadi lebih besar. Dengan demikian hal ini mendukung kepada sifat pertama yaitu sifat penyayang terhadap suaminya, yang akan menghantarkan tercapainya tujuan pernikahan.
Semua sifat-sifat yang telah disebutkan merupakan kriteria yang dihasung dalam syariat. Hal ini tidak lain demi kemaslahatan besar yaitu agar seseorang dapat menggapai hikmah pernikahan yang tertuang dalam firman-Nya yang artinya; “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” [Q.S. Ar Rum:21]. Oleh karena itu kriteria-kriteria ini jangan terlewatkan bagi seseorang yang hendak merajut tali pernikahan. Wallahu a’lam bish shawab. [farhan].

sumber : http://tashfiyah.net/2011/05/istri-terpilih

Jerat-Jerat Wanita

0 komentar
Wanita adalah hiasan kehidupan dunia. Allah pun telah berfirman di dalam Al-Quran:
Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap syahwat dari wanita, anak-anak lelaki, harta benda yang berlimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan pertanian, itulah perhiasan kehidupan dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.” [Q.S. Ali Imran:14].
Apalagi jika wanita itu adalah wanita yang shalihah. Rasulullah ` telah menyebut wanita shalihah sebagai perhiasan dunia yang paling baik dalam sabda beliau yang artinya, “Dunia itu adalah perhiasan dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita shalihah.” [H.R. Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr c].

Demikianlah, wanita shalihah akan memberikan warna yang baik di kehidupan dunia. Karena seorang wanita shalihah akan melahirkan generasi yang shalih, memberikan sokongan kepada suaminya untuk beramal shalih, dan dia sendiri pun menjaga dirinya agar senantiasa berada di dalam keshalihan.
Namun, perhiasan dunia ini justru akan menjadi azab jika sudah ditumpangi nafsu syaithaniah. Tak sedikit wanita yang justru menggelimpangkan korbannya ke dalam jurang kenistaan. Pun, tak jarang wanita menjadi sumber rendahnya moral dalam suatu bangsa. Tak heran, ada sebuah ungkapan yang menyatakan, “Jika jelek kondisi moral wanita suatu bangsa, niscaya jelek pula lah bangsa tersebut. Namun jika baik kondisi moral wanita suatu bangsa, hal itu akan menyumbang baiknya bangsa tersebut.”
Makanya, Rasulullah ` pun pernah mewanti-wanti:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berganti generasi di atasnya lalu melihat apa yang kalian perbuat. Maka jagalah diri kalian dari dunia dan wanita karena sesungguhnya awal musibah yang menimpa Bani Israil ada pada wanita.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z].
Rasulullah ` juga menegaskan bahwa wanita adalah ujian yang paling berbahaya bagi laki-laki dalam sebuah hadits yang artinya, “Tidaklah aku tinggalkan sebuah ujian setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid c].
Mungkin hadits yang kami sebutkan ada yang menilainya terlalu memojokkan dan menyalahkan wanita tanpa menyinggung kesalahan laki-laki. Janganlah kita terburu-buru menilai demikian. Kita tidak pungkiri bahwa laki-laki memiliki andil sebagai pelakunya. Tapi, jika kita telisik dan perhatikan lebih jauh, akan kita dapati titik terang bahwa perbuatan laki-laki ini lebih sering disebabkan oleh umpan yang dilemparkan si wanita. Nah, inilah pesan yang hendak disampaikan oleh Nabi ` sebagai bentuk empati kepada umatnya, agar mereka lebih berhati-hati supaya tidak terjerumus ke dalam kubangan kerendahan yang diakibatkan olehnya.

Gerbang Menuju Kerendahan
Syaithan sangat getol dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan dan kemaksiatan. Segala cara akan dia tempuh demi merealisasikan janjinya yang pernah dia sampaikan kepada Allah yang artinya, “Demi kemuliaan-Mu, aku benar-benar akan menyesatkan mereka semua.” [Q.S. Shad:82].
Di antara jalan yang dia tempuh untuk menjerumuskan manusia adalah melalui wanita karena dia tahu bahwa manusia diciptakan secara tabiat mencintai wanita. Dia memperalat wanita untuk membuka celah-celah kerusakan dengan beberapa cara:
(1)    Zina alias berhubungan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan yang sah
Zina adalah dosa besar yang telah Allah firmankan:
“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perkara yang keji dan jalan yang jelek.” [Q.S. Al-Isra` (Bani Isra`il):32]. Sayangnya, zina pada zaman ini dianggap sesuatu yang biasa jika dilakukan suka sama suka. Ditambah lagi, media massa semakin memberikan kesan telah biasanya perbuatan zina. Inilah awal dari kehancuran suatu bangsa. Na’udzu billahi min dzalik.
(2)    Mengumbar aurat wanita
Sebagai seorang mukmin, tentu kita mengetahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Namun sekarang syaithan telah berhasil membujuk mereka untuk menanggalkan pakaian kehormatan mereka satu demi satu. Nabi ` bersabda yang artinya, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum aku lihat: sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dia gunakan untuk mencambuk manusia; dan wanita-wanita yang berbaju tapi telanjang (berbaju tipis dan transparan atau berbaju tebal tapi ketat, red.), melenggak-lenggokkan pundaknya dan berjalan miring, kepalanya seperti punuk unta (karena digelung dan diikat sehingga nampak ikatannya dari luar jilbabnya, red.). Wanita ini tidak akan mendapatkan wangi surga, padahal wanginya bisa dicium dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [H.R. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z]. Demikianlah mukjizat Nabi Muhammad `. Sejak dahulu beliau telah mensinyalir perbuatan semacam ini pada umatnya meskipun belum terjadi. Sekarang, pemandangan semacam ini tidak susah didapati. Malahan, sulit bagi kita untuk menghindarinya. Wallahul musta’an.
(3)    Ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan wanita) serta khalwat (laki-laki dan perempuan berduaan)
Ikhtilath dan khalwat adalah salah satu jalan menuju zina. Dalam Islam, segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam keharaman adalah haram. Apalagi, Allah U telah melarang secara tegas untuk mendekati perzinaan dalam ayat yang tadi kita sebutkan (Q.S. Al-Isra`:32). Rasul ` pun telah menegaskan haramnya ber-khalwat di dalam sabda beliau (yang artinya), “Janganlah laki-laki berduaan dengan wanita kecuali bersama dengannya mahram[1].” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
Rasulullah ` juga bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan wanita kecuali yang ketiganya adalah syaithan.” [H.R. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v].
(4)    Tabarruj jahiliyah (berdandan atau bersolek selain untuk suami)
Patut kita ketahui bahwa seorang wanita tidaklah diperbolehkan untuk berdandan dan bersolek di luar rumahnya. Allah U telah melarang istri-istri Nabi ` untuk ber-tabarruj dengan firman-Nya:
“Dan tetaplah berada di rumah kalian dan janganlah ber-tabarruj dengan tabarruj jahiliyah yang terdahulu.” [Q.S. Al-Ahzab:33]. Jika Allah melarang istri-istri Nabi ` yang notabene adalah wanita-wanita pilihan, maka wanita umat Islam ini lebih utama untuk mendapatkan perintah ini.
(5)    Melemahkan semangat untuk beramal shalih
“Wahai orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang merupakan musuh bagi kalian.” [Q.S. At-Taghabun:14]. Mereka dianggap musuh karena seringkali istri dan anak menggembosi semangat beramal shalih. Seringkali kita dapati, seseorang lelaki sebelum menikah sangat rajin sekali dalam beribadah, namun ketika mengarungi bahtera rumah tangga seketika itu juga  dirinya tak lagi terlihat di dalam majelis taklim. Bahkan, shalat berjama’ah pun kadang absen.

Untukmu Wanita
Wahai wanita, berhati-hatilah dirimu. Jangan sampai syaithan memperalatmu menjadi penyebar kerusakan. Jangan biarkan dirimu menjadi umpan untuk menjerumuskan laki-laki ke dalam neraka. Ingatlah, bahwasanya Rasulullah ` pernah melihat neraka, ternyata mayoritas penduduknya adalah wanita.
Wahai wanita, generasi depan adalah tanggung jawabmu. Jangan engkau rusak dengan merusak dirimu. Kenakan kembali jilbabmu, kembalilah ke dalam koridor Rabbmu. Ketahuilah, Rabbmu adalah Rabb yang Maha Mengetahui maslahat dirimu. Dia adalah Maha Adil yang tidak ingin menzalimimu.
Wahai wanita, ketahuilah kodratmu. Allah memberimu hak sesuai dengan kewajibanmu dan mewajibkanmu sesuai dengan kemampuanmu. Ketahuilah, Allah memberimu jalan lebih mudah untuk masuk ke dalam surga karena itu pantas dengan pengorbananmu. Rasul ` pun telah memberimu kabar gembira dalam sebuah hadits shahih yang memiliki banyak jalan, yang artinya, “Jika seorang wanita shalat lima waktu, puasa wajib sebulannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu manapun yang engkau mau.’” [H.R. Ahmad, Ath-Thabarani, dan Al-Bazzar, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani v].

Untukmu Lelaki
Wahai lelaki, sesungguhnya Allah sedang mengujimu. Jangan biarkan dirimu terpancing ke dalam jerat syaithan melalui umpan wanita. Engkau diciptakan oleh Allah memiliki pikiran yang lebih matang dan pribadi yang lebih mapan. Maka, berpikirlah beberapa kali sebelum terjatuh dalam jeratnya.
Janganlah engkau merasa dirimu lebih kuat daripada wanita lantas lalai terhadap bahayanya. Tidakkah engkau ingat bahwasanya banyak tokoh dunia ‘tersihir’ oleh wanita sehingga akhirnya terkapar dalam kekalahan. Rasul ` pun telah mengisyaratkan hal ini dengan bersabda yang artinya, “Tidaklah aku melihat makhluk kurang akal dan agamanya yang lebih menguasai pikiran seorang lelaki kuat daripada wanita.” [H.R. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri z].
Pun, janganlah karena merasa dirimu lebih kuat daripada wanita lantas membuatmu sewenang-wenang terhadap wanita. Ingatlah, Allah menjadikanmu sebagai pelindung wanita, penjaganya, pemberi haknya, dan pemberi ketenteraman baginya. Allah telah mewasiatkan kepadamu:
“Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita…” [Q.S. An-Nisa`:34].
Allahu a’lam bish shawab.


[1] Mahram -yang sering disebut masyarakat Indonesia dengan istilah muhrim- adalah wanita atau laki-laki yang diharamkan untuk dinikahi baik karena kekerabatan atau karena persusuan. Istilah yang benar adalah mahram, bukan muhrim, karena muhrim adalah orang yang sedang ihram (haji).

sumber : http://tashfiyah.net/2011/05/jerat-jerat-wanita
 

Ka'bah Night | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id